Wisik Jayabaya

Judul Manuscript
Nostradamus van Java
: Wisik langsung dari para Pujangga ternama (Joyoboyo, Ronggowarsito, Yosodipuro)

Penulis
Joko Lelono | Nama Samaran

Diterbitkan pertama kali oleh
Penerbit Media Pressindo – Yogyakarta

Tahun terbit
Oktober 2000 | Cetakan I | © Copyright Reserved

Pengantar Penulis

Apa yang sebenarnya tengah melanda Bumi Pertiwi ini? Kapan krisis multidimensi akan berakhir? Sosok macam apa yang akan tampil, dan mampu menyelesaikan persoalan yang melanda negri ini? Inikah tanda-tanda bahwa Nusantara tengah memasuki Zaman Kolotidho?

Penjelasan-penjelasan dari alam rasional tampaknya tidak mampu lagi memberikan indikasi ke arah mana kita harus melangkah.

Orang semakin jenuh dengan membanjirnya informasi-informasi dan tayangan di berbagai media surat kabar atau pun media elektronik. Semua informasi nyaris hanya berisikan benturan-benturan antar elemen bangsa dan semakin membingungkan.

Di tengah badai krisis yang melanda di berbagai sektor kehidupan dan masa depan yang semakin tidak menentu, semakin banyak rakyat kecil yang berpaling kepada solusi adi-kodrati sederhana, yang terilhami oleh daya nalar dan nurani murni dan berimbang. Mengingat teori-teori ilmiah yang canggih pun tidak mampu lagi memberikan penjelasan yang memuaskan.

Trend ini ini juga terlihat pada bidang medis dan psikologi. Orang berbondong-bondong mendatangi pusat-pusat meditasi, pernapasan prana, pemberdayaan reiki untuk sekedar mencari kedamaian di tengah hiruk-pikuknya dunia.

Paranormal, spiritualist, dukun, serta para pakar pengasihan bermunculan dimana-mana bagai jamur yang tumbuh di musim hujan. Itulah pertanda bahwa solusi-solusi dan paradigma ilmiah yang ada sudah tidak cocok dan tidak mampu menjawab persoalan dan tuntutan jaman.

Buku-buku dan bahan bacaan lain bertemakan spiritual dan dunia gaib pun bermunculan dimana-mana, termasuk beberapa diantaranya mencoba menguak tabir Sang Kala dan jangka jaman.

Orang mulai menengok ke belakang untuk menggali “warisan leluhur” yang berupa “jangka jaman“.

Mereka yang mampu menguak rahasia Serat Kolotidho karya pujangga terkenal Keraton Solo, tentu tidak akan heran dengan munculnya berbagai masalah yang melanda bangsa ini. Sebab semua itu sudah diramalkan sebelumnya dalam Serat Kolotidho. Masih banyak terdapat banyak ramalan dan jangka jaman lainnya yang dapat digunakan sebagai rujukan, seperti misalnya “Jangka Tanah Jawa” oleh Joyoboyo.

Kehadiran manuscript-manuscript semacam ini ternyata menimbulkan banyak pro dan kontra. Banyak orang percaya bahwa ramalan-ramalan itu akan menjadi kenyataan. Namun ada pula yang menganggapnya sebagai isapan jempol belaka. Di tengah pro dan kontra semacam ini, penulis menyajikan manuscript berisi wisik dari berbagai pujangga kenamaan.

Untaian wisik dalam manuscript ini mencoba memberi penjelasan tentang kejadian yang belakangan ini melanda persada Nusantara dan ke arah mana negeri ini akan dibawa.

Untaian wisik dalam manuscript ini dihimpun dari penerimaan wisik langsung melalui wawancara dengan para ruh yang suci dari Pujangga-pujangga ternama, seperti misalnya Joyoboyo, Ronggowarsito, dan Yosodipuro, yang tentu saja dilengkapi dengan tanggal penerimaan wisik tersebut.

Untuk tetap mempertahankan otentitas, maka untaian wisik dalam manuscript sengaja diurutkan menurut tanggal penerimaannya, meski terkesan ada lompatan-lompatan tema dari untai-wisik yang satu ke untai-wisik lainnya.

====================================
Catatan Pemabuk :
====================================

Dalam manuscript tersebut tidak disebutkan “siapa” yang menerima wisik langsung tersebut. Bisa 1 orang, bisa 2 atau 3 orang, bahkan bisa banyak orang.
Bahkan Penulis manuscript itu sendiri tidak berkenan menyebutkan identitas aslinya. Sebagai gantinya, dia memakai nama samaran yaitu Joko Lelono. Bisa jadi, wisik itu diterima oleh si Penulis tersebut.

Tetapi yang pasti – memang pada jaman itu lebih-lebih setelah runtuhnya rezim Suharto) memang banyak orang-orang arif yang mulai bersiap diri dalam menghadapi perubahan jaman.

Para ruh-ruh suci banyak yang turun ke bumi untuk saling mengisi. Mereka mencari anak-cucu-buyut mereka untuk ‘memperingatkan’ bahwa zaman telah berubah.

Tidak terkecuali dengan para ruh pujangga ternama ini. Mereka kembali memberikan wejangan-wejangan yang sebelumnya memang telah dikenal dalam sejarah tanah jawa.

Selamat menikmati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s