4 Nasihat dari Kanjeng Sunan Derajat

Anda tahu arti Drajad/Derajat…?

Renungkan arti derajat itu dalam kehidupan di dunia dan akhirat.
Siapakah orang yang tidak ingin mendapatkan derajat dalam kehidupannya…? Derajat di dunia, terlebih-lebih derajat di akhirat.

Tidakkah anda ingin memperoleh derajat dalam semua aspek kehidupan anda…?

Berikut 4 nasehat dari Kanjeng Sunan Drajad

1 | Menehono teken marang wong wuto | Berilah tongkat kepada orang buta

2 | Menehono mangan marang wong kan luwe | Berilah makan kepada orang yang kelaparan

3 | Menehono busono marang wong kang mudo | Berilah pakaian kepada orang yang telanjang

4 | Menehono ngiyub marang wong kang kudanan | Berilah tempat berteduh kepada orang yang kehujanan.

Kita akan coba diskusikan mengenai poin-poin nasihat dari Kanjeng Sunan Derajat tersebut. Tentu saja, share dari saya sangatlah terbatas, hanya berdasarkan pemahaman batin – bukan pemahaman intelektual berdasarkan teori.

Poin pertama : Berilah tongkat kepada orang buta (Menehono teken marang wong wuto)

Kalau kita mengartikan secara “mentah-mentah” atau harfiah atau berdasarkan kosa-kata, maka poin tersebut menjadi terlihat sangat bodoh. Orang buta ‘kan (kebanyakan) sudah punya tongkat, masa kita kasih tongkat lagi…?🙂

Maksud “orang buta” disini (dilihat secara hakikat) adalah simbol dari orang-orang yang “buta hatinya”. Mata lahiriahnya memang tidak buta, tapi batinnya tidak peka terhadap keadaan yang menuntutnya untuk berbuat suatu kebajikan.

Mata lahiriahnya melihat ada orang yang sangat membutuhkan pertolongan, tapi mata batinnya tidak bisa melihat untuk segera memberi pertolongan.

Orang yang “buta” mata hatinya tidak mampu melihat orang susah, melihat anak yatim, melihat fakir miskin, melihat tetangga yg sedang dalam kesulitan, melihat saudara dalam keadaan terpuruk, melihat kondisi negri yang kacau balau, dan lain sebagainya…

Inti dari “kebutaan” mata hati disebabkan oleh penyakit “lemahnya iman”.
Semakin lemah iman seseorang – maka semakin kronis penyakit kebutaan mata hati itu.

Disinilah kita memiliki kewajiban untuk memberikan “tongkat” itu.
Memberikan pegangan, memberikan arahan untuk kembali pada “jalur-jalur” yang semestinya kita lalui dalam kehidupan.

Dalam prakteknya, apalagi dengan kondisi sekarang ini, sulit kita temukan orang yang bisa memberikan “tongkat”.
Jangankan memberikan tongkat, justru kebanyakan dari kita inilah yang sangat memerlukan tongkat tersebut.

Satu hal yang saya bisa share, bahwa (jaman sekarang ini) tongkat-tongkat itu tidak dimiliki oleh sembarangan orang.

Walaupun dia seorang ahli ibadah, belum tentu dia punya tongkat itu.
Walaupun dia punya pemahaman-pemahaman agama yang baik – atau lulusan dunia pesantren – atau Universitas Islam terkenal di dunia – belum tentu juga mereka punya tongkat itu.

Justru mereka-mereka itulah yang kadang harus kita beri tongkat. Mereka pintar tapi buta mata hatinya.
Mereka rajin ibadah tapi tak kunjung mempraktekannya dalam kehidupan.

Contoh riil dalam kehidupan orang-orang yang buta mata hatinya :

1 – Punya ilmu agama, hafal quran dan hadist, tapi “pelit” tidak mau memberikan ilmunya. Kalau mau ilmunya ya harus harus bayar…. Ada yang menyebutnya dengan istilah Mahar sekian…..

2 – Banyak ustad-ustad atau penceramah agama yang memiliki tarif setinggi langit untuk mengundangnya memberikan ceramah.

3 – Punya rumah mewah, tapi  tidak mau tahu dengan kondisi tetangganya yang harus dibantu.

4 – Pejabat-pejabat negara yang sudah tahu bangsanya sedang melarat – tapi malah korupsi Milyaran rupiah…

5 – Anak yang tidak tahu diri – melihat orang tuanya “sungsang-sumbel” nyari nafkah untuk dirinya – tapi anak itu justru menjadi duri dalam daging orang tuanya sendiri.

6 – Murid murtad – gurunya memberi ajaran tanpa minta upah – tapi malah menjelek-jelekan ajaran gurunya.

7 – Masyarakat yang di azab – sudah tahu agama berisi kesucian – tapi malah melakukan perbuatan yang dilarang agama. Wajar saja “pasukan Tuhan” (yang bernama Tsunami) mengamuk dimana-mana.

8 – Banyak kyai-kyai (kata orang sih sakti) bukannya mengajari umat mengaji – tapi malah sok suci ikut politik royokan kursi…

9 – Silahkan cari sendiri….

Demikian sebagian contoh kecil bagaimana (sesungguhnya) kebanyakan dari kita sebetulnya dalam kondisi buta.

Untuk itu, mari kita sama-sama mencari tongkat – sebelum tongkat Yang Maha Kuasa menghantam kita.
Kita cari orang-orang yang ikhlas dalam menjalankan agama.
Kita dekati orang-orang yang mengajarkan ilmu agama tanpa upah.
Kita dekati orang-orang shaleh.
Dan kita dekati orang-orang susah dalam rangka mempertajam kepekaan batin.
Mereka itulah tongkat kita.
Yang akan memberikan tongkat agar kita (yang buta ini) bisa berjalan menyusuri gelapnya kehidupan di dunia, dan gelapnya kehidupan (kelak) di akhirat.

Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s