Tafsir bebas ala Pemabuk : Memahami Sifat Kekekalan Allah (Baqo’)

Baqo adalah sifat ke-3 dari 20 Sifat Allah yang harus kita ketahui guna menyusun struktur keimanan kita agar kuat dan lurus. Kita sudah bahas sifat pertama dan kedua (Wujud & Qidam). Sekarang kita coba diskusi mengenai Sifat Allah yang ketiga ini (Baqo’).

Lagi-lagi kita tidak perlu pusing dg urusan arti harfiah, sebab itu urusan orang-orang yang bergelut di dunia Pesantren atau berkutat di masalah syariat.
Kita akan diskusi langsung dari ‘batin‘, sebab iman itu adanya di batin – bukan di buku-buku. Gimana ? setuju ?
Kalau setuju silahkan lanjut. Kalau tidak setuju ya jangan dibaca😀

Tuhan kita itu punya sifat kekal (Baqo’). Apanya yang kekal ?
Kehidupan Allah adalah kehidupan yang kekal.
Kita akan mati. Bapak-ibu kita juga akan mati. Nenek moyang kita malah sudah mati duluan.
Tapi Allah tidak akan mati. Sebab Dia bersifat kekal.

Sifat kekal berikutnya meliputi kekekalan akan kekuasaan-Nya.
Kalau kita punya kekuasaan, atau punya jabatan, atau katakanlah semua yang kita miliki dan kita kuasai, maka semua kekuasaan kita (kelak) akan diambil lagi oleh Sang Pemilik Asli Kekuasaan itu (yaitu Allah).

Kita sudah bahas sifat wujud Allah. Bahwa sadar tidak sadar – Allah nge’wujud dalam kehidupan kita. Hanya saja kita tidak melihatnya secara fisik.
Jika dihubungkan dengan sifat ‘kekal’ ini (kira-kira) apakah kita tidak malu sama Allah, petentang-petenteng di muka bumi ini (di hadapan Wujud Allah) dengan memamerkan kekuasaan kita ?

Kurang lebih Allah akan menyikapinya seperti ini (pakai bahasa saya) : “Halah… yang punya kekuasaan kan aku (Allah)… baru dikasih sedikit saja sudah lupa daratan. Gimana kalau aku (Allah) kasih yang banyak…?”

Perlu kita sadari, bahwa kekuasaan atau kehidupan kita di dunia ini punya 2 kelemahan.

Pertama, semua kekuasaan yang Allah berikan kepada kita di dunia, jumlahnya (sebetulnya) sangat sedikit sekali dibandingkan dengan kekuasaan yang akan Allah berikan di akherat.
Sayangnya, kita sudah terbuai dengan kekuasaan di dunia sehingga melupakan jatah kekuasaan yang akan Allah bagikan di akhirat.
Kedua, (sudah jumlahnya sedikit) kekuasaan yang kita miliki di dunia ini tidaklah kekal, alias akan kembali lagi ke Pemilik Aslinya.

Boleh dibilang (secara jujur) bahwa apa-apa yang kita miliki di dunia ini adalah “semu” atau hanya “bayangan” atau hanya “ilusi“.
Semua yang “nyata” dan semua yang “asli” adalah (kelak) saat kita pulang mudik (pulang ke kampung akherat).

Harta kita di dunia adalah “semu” cuma bayangan atau ilusi…
Istri-istri dan suami kita di dunia adalah “semu” cuma bayangan atau ilusi…
Anak-anak yang kita sayangi adalah “semu” cuma bayangan atau ilusi…
Pekerjaan atau bisnis yang sekarang kita miliki adalah “semu” cuma bayangan atau ilusi…
Bahkan diri kita inipun (selama masih hidup di dunia) adalah “semu” cuma bayangan atau ilusi…
Masa kecil kita adalah “semu” – masa kecil itu akan kita tinggalkan menuju masa kedewasaan…
Masa muda kita juga “semu” – masa itu kelak juga akan kita lampaui…
Masa tua juga “semu” – sebab raga jasadiah ini akan kita kubur di dalam tanah…
Kekekalan yang seperti apa yang kita miliki…? (Jawabannya tidak ada…)
Hanya Allah yang akan hidup kekal
Hanya Allah yang punya kekuasaan kekal

Jika kita sudah mengetahui sifat kekekalan Allah ini, masihkah kita tidak juga segera sadar…?

Hal lain yang cukup merepotkan adalah, bahwa apa saja yang kita miliki di dunia ini, (sudah tidak ada yang kekal) ditambah kita harus mempertanggung-jawabkannya di hadapan Sang Maha Kekal…?
Gimana cara mempertanggung-jawabkannya…?
Hehehe… silahkan jawab sendiri ya…😀

Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s